Sunday, 5 January 2020

Enaknya punya Mendikbud yang melek IT dan berorientasi online

Enaknya punya Mendikbud yang melek IT dan berorientasi online hapus gagap Teknologi Digital sehingga semuanya punya kesempatan yang sama untuk belajar apalagi tidak Berbayar alias Gratis...

Untuk bapak/ibu yang masih mempunyai keluarga (anak, ponakan, cucu) yg duduk di sekolah tingkat TK, PAUD, SD, SMP, SMA.
Sekarang lagi booming mengenai bimbel online seperti “Ruang Guru” tapi berbayar.

Nah, Pemerintah (Kemendikbud) telah menyediakan bimbel online dan ini GRATIS.
Materi, soal-soal dan video belajarnya juga komplit. Guru-gurunya juga pilihan dan berprestasi.

Ayo buka Webnya dan tambah ilmu di "Rumah Belajar” belajar.kemdikbud.go.id

Bagi teman2 yg menjadi tenaga pendidik monggo bisa di share ke teman dan siswanya, semoga akan sangat bermanfaat...👌
=================
Mendikbud Nadiem Makarim Geber Teknologi, Guru Siap?

Keinginan Mendikbud Nadiem Makarim ini untuk menjawab tantangan zaman. Namun, hal itu bukan perkara ringan karena banyak guru di Indonesia belum melek teknologi.

JEDA.ID–Mendikbud Nadiem Makarim akan meningkatkan peran teknologi untuk memodernisasu pendidikan Indonesia. Tantangan besar yang dihadapi Nadiem adalah belum semua guru dan tenaga pendidikan di Indonesia melek teknologi.

Menurut Nadiem, ada 300.000 sekolah dan 50 juta pelajar di seluruh Indonesia. Dia memastikan akan menerapkan apa yang dilakukan di Gojek yaitu meningkatkan peran teknologi untuk memodernisasi pendidikan.

“Peran teknologi akan sangat besar dalam kualitas, efisiensi dan administrasi sistem pendidikan. Jadi peran teknologi sangat penting. Kita harus mendobrak, kita harus berinovasi,” ujar Nadiem di Istana Negara, Rabu (23/10/2019), sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Keinginan Mendikbud Nadiem Makarim ini untuk menjawab tantangan zaman. Namun, hal itu bukan perkara ringan. Pada akhir 2018 lalu, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud menyebut hanya 40 persen guru nonteknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang siap dengan teknologi.

”Kami sudah melakukan survei dan hasilnya hanya 40 persen guru non-TIK [yang tidak mengajar TIK], yang siap dengan teknologi. Data yang kita punya itu berdasarkan nama dan alamatnya.”

Hal itu pula yang menjadi kendala dalam mencapai pendidikan yang sesuai dengan revolusi 4.0. Kendala lainnya, adalah ketersediaan jaringan internet terutama di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Untuk meningkatkan guru melek teknologi, Kemendikbud melatih sebanyak 10.000 guru setiap tahunnya agar terbiasa dengan teknologi. Sedangkan untuk kendala jaringan Internet, Kemendikbud dan Kominfo berupaya menyediakan layanan Internet di sekolah.

Masih rendahnya guru melek teknologi tidak lepas dari jumlah guru berusia tua yang cukup banyak. Sebagian besar guru yang belum siap dengan teknologi adalah guru yang usianya di atas 50 tahun.

Berdasarkan data Kemendikbud, ada 3,35 juta guru dan tenaga kependidikan di Indonesia. Bila dilihat dari usia, terbanyak ada di rentang 30-39 tahun. Di urutan kedua, rentang usia 50-59 tahun. Berikut perincian jumlah guru dan tenaga kependidikan berdasarkan usia.

Di bawah 20 tahun 6.919 guru (0%)
20-29 tahun 633.245 guru (19%)
30-39 tahun 995.108 guru (30%)
40-49 tahun 793.570 guru (24%)
50-59 tahun 870.694 guru (26%)
60-65 tahun 51.935 guru (2%)
Di atas 65 tahun 6.464 guru (0%)
Anggaran Pendidikan Rp505 Triliun
Mendikbud Nadiem Makarim memastikan perubahan yang akan dilakukan di Kemendikbud sesuai dengan perkembangan zaman.

”Saya belum bisa bilang terobosannya seperti apa, tapi yang jelas berhubungan karena saya milenial dan background-nya teknologi, sudah pasti perubahan yang terjadi ke sana,” kata dia.

Dia akan menjalankan visi Jokowi untuk menyesuaikan SDM hasil institusi pendidikan di Indonesia dengan kebutuhan industri. Prinsip utama dari pembenahan sistem pendidikan yang akan dijalankannya adalah gotong royong dan kolaborasi.

Untuk pengembangan pendidikan, pemerintah menganggarkan Rp505,8 triliun untuk dunia pendidikan. Anggaran itu terbagi di pemerintah pusat Rp169,9 triliun, transfer ke daerah Rp306,9 triliun, dan dana abadi Rp29 triliun.

Dalam RAPBN 2020, terdapat beberapa kebijakan strategis di bidang pendidikan. Pertama perluasan akses pendidikan dari usia dini sampai dengan pendidikan tinggi. Kedua melanjutkan percepatan dan peningkatan kualitas sarana prasarana pendidikan. Termasuk meningkatkan kualitas dan keterampilan SDM.

Beberapa target besar sudah dipatok dalam APBN 2020. Ini menjadi tantang besar bagi Mendikbud Nadiem Makarim untuk mewujudkannya. Ini beberapa target dunia pendidikan sebagaimana tercantum dalam RAPBN 2020.

Indeks pembangunan manusia 72,51 (2019: 71,98)
Angka partisipasi kasar pendidikan SMP/sederajat 92,73 (2019: 92,05)
Angka partisipasi kasar pendidikan SMA/sederajat 81,52 (2019: 80,78)
Pembangunan/rehab ruang kelas 55.700 ruang kelas
BOS 54,6 juta siswa
Program Indonesia Pintar 20,1 juta siswa
Beasiswa Bidik Misi/KIP Kuliah 818.000 mahasiswa
Mendikbud Nadiem Makarim mengaku akan mempelajari seluk-beluk dunia pendidikan Indonesia. Dia akan bicara dan mendengarkan para pakar pendidikan. Pria 35 tahun ini berjanji akan belajar secara cepat.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan
=================
Pengamat: Mendikbud Baru Harus Melek Teknologi

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul, Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus memilih Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang betul-betul memahami teknologi, yakni sosok yang bisa mengimplementasikan era digital seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Menurut Indra, pada era revolusi industri 4.0 ini, metode pengajaran harus mempertimbangkan materi yang diajarkan kepada peserta didik adalah sesuatu yang akan mereka gunakan di masa mendatang. Yang menjadi persoalan saat ini adalah terlalu banyak materi pelatihan yang tidak penting dan tidak tepat sasaran.

“Menjalankan pendidikan berbasis teknologi ini bukanlah sesuatu yang sulit jika dilakukan dengan perencanaan yang matang. Misalnya, melalui pelatihan Simdik (sistem informasi manajemen pendidikan, red),” kata Indra dalam pembukaan lomba tingkat nasional Wecode yang diselenggarakan di Raffles International Christian School di Jakarta, Minggu (20/10).


Indra menambahkan, Simdik ini merupakan sistem pelatihan digagas oleh pihaknya bersama tim untuk melatih para guru non-TIK (teknologi informasi dan komputer) agar mampu memahami pemanfaatan digital dalam dunia pendidikan, khususnya kejuruan. Diharapkan, mereka dapat menjawab tantangan dari dunia industri yang tidak hanya membutuhkan tenaga kerja terampil dan profesional, tetapi juga mampu berinovasi.

Indra menuturkan, para guru yang dilatih tiga bulan lalu dengan skema Simdik ini telah dapat menikmati hasilnya. Mereka berhasil menularkan ilmunya kepada peserta didik masing-masing. Bahkan, beberapa di antara siswa-siswa tersebut telah menghasilkan karya.

“Ini berarti sudah terjadi suatu proses, dan jangan bilang guru itu tidak bisa berubah untuk mengajarkan sesuatu yang baru. Saya bisa membuktikan sesuatu yang berbeda dengan hasil Simdik ini asal caranya tepat. Bukan sekadar pelatihan dan anggaran hilang hanya dibagi-bagi saja yang dilakukan dengan skema reborn seperti saat ini,” ucapnya.

Oleh karena itu, Indra mengharapkan Jokowi akan memilih Mendikbud yang memahami teknologi dan mempunyai perencanaan baik sehingga semua pelatihan tidak hanya reborn saja. Pasalnya, dia menilai pelatihan kepada guru yang dilakukan pemerintah hanya menghabiskan anggaran tanpa ada perubahan yang dapat ditularkan kepada siswa.

Indra menyebut, hal tersebut terjadi karena banyak materi pelatihan yang tidak penting. Sedangkan metode pengajaran yang diterapkan dalam Simdik mewajibkan materi yang diajarkan kepada guru merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan peserta didik.

Bisa Berubah
Indra menegaskan, dengan memilih Mendikbud yang benar-benar paham teknologi, sekolah berbasis digital di Indonesia ini dapat terwujud, termasuk di daerah terluar, terpinggir, dan terdepan (3T).

“Bukan tidak mungkin guru-guru yang saat ini dikatakan guru tua, jadul, dan tidak bisa belajar ternyata bisa berubah dan melek teknologi. Guru-guru yang kami latih ini bukanlah guru IT. Ada guru BK (bimbingan konseling), guru bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Semua saya latih menjadi guru berbasis teknologi mengajar. Nah, mereka akhirnya bisa mengajarkan anak-anaknya coding, dan membuat program. Jadi tidak ada alasan lagi untuk membuat SDM unggul ini tercapai,” ujarnya.

Selanjutnya, Indra menuturkan, para siswa yang telah memiliki karya diberi kesempatan untuk mengikuti lomba tingkat nasional Wecode di Jakarta. Selanjutnya, mereka akan diseleksi untuk mewakili Indonesia tingkat internasional.
Indra menyebutkan, animo para siswa sangat tinggi. Tercatat ada 600 siswa dari tingkat TK, SD kecil kelas satu hingga tiga, SD besar empat sampai enam, SMP, dan SMA yang mengirim karya mereka.

“Jadi tiap jenjang itu beda ya tingkat kesulitan dan temanya. Yang TK bebas, SD kecil bentuknya animasi, SD besar bentuknya gim. Sedangkan SMP dan SMA itu bisa gim maupun aplikasi android, yakni sudah betul-betul pakai nyata,” ujarnya.

Karya-karya yang masuk akan diseleksi menjadi lima terbaik dan pemenang dari setiap jenjang akan dikirim untuk mengikuti lomba tingkat internasional di Guangzhou, Tiongkok pada 24 November mendatang.
Sumber: Suara Pembaruan

====================

SPIONASE-NEWS. COM, – OPINI – Ditetapkannya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan kebudayaan dalam Kabinet Indonesia Maju menjadi perbincangan yang hangat, terutama dikalangan akademisi.

Beragam asumsi menyelundup, hanya karena beliau fokusnya dikenal sebagai pengusaha. Sebab, rekam jejak mendikbud tentu berpengaruh real nantinya terhadap kelangsungan mutu Pendidikan di Indonesia. Hanya karena beliau merupakan pendiri gojek.

Apakah dengan terpilihnya Nadiem Makarim sebagai inisiator utama Pendidikan akan mengharuskan guru untuk melek teknologi ?

Bisa jadi semua hal terkait komponen-komponen Pendidikan akan di ilustrasikan lewat Teknologi. Mengingat era Industri 4.0 ini mengharuskan kita untuk ikut arus, agar tidak ketinggalan derasnya pengunaan jasa berbasis daring saat ini.

Hal ini bisa kita simak lewat penyampaian Nadiem Makarim dalam rapat Koordinasi bersama di Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan berkenaan dengan empat prioritas Mendikbud, salahsatunya ialah pengembangan teknologi. Beliau menyampaikan fokus teknologi akan membantu guru dalam menjalankan roda Pendidikan. Meskipun selalu ada paradigma yang berkembang di masyarakat soal pengembangan teknologi.

Disalahpahami dalam artian Teknologi akan mengganti peran guru. Harap penulis sendiri teknologi yang dimaksud itu untuk memperbaiki kualitas dan kapasitas, bukan untuk menggantikan.

Lantas, bagaimana dengan penduduk yang berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh jaringan? Terobosan Apa kira-kira yang bisa dilakukan seorang Nadiem Makarim dalam membenahi Pendidikan di Indonesia.

Bukankah Konsep pendidikan yang ideal dalam suatu negara , selain mutu Pendidikan yang semestinya diperhatikan juga Pendidikan yang merata ke pelosok-pelosok negeri harus tetap diupayakan.

Untuk apa banyak professor muda, jika di beberapa daerah masih terkenal dengan masyarakat buta hurufnya.

Untuk apa fasilitas teknologi yang serba canggih, jika masih banyak sekolah-sekolah kecil di daerah terpencil yang gedung sekolahnya sudah tidak layak huni.

Untuk apa bergelimang kelengkapan media belajar jika masih ada siswa yang sulit menemui buku-buku matapelajaran untuk dipelajari.

Untuk apa pemuda menuntut Pendidikan hingga ke luar negeri, jika masih banyak warga di daerah sendiri yang tidak memiliki akses untuk memperoleh Pendidikan yang layak.

Seharusnya pemerintah lebih lihai lagi mengamati kendala-kendala Pendidikan di Indonesia. Setidaknya, bisa lebih atraktif menyamaratakan warga, sehingga amanah konstitusi dapat terlaksana sebagaimana harapan masyarakat setempat.

Alakadarnya sistem Pendidikan akan mengikut siapa aktor dibalik dunia Pendidikan kita. Akan selalu ada ide-ide baru dari masa ke masa setiap pergantian mendikbud. Hanya ada dua pilihan, melanjutkan atau benar-benar mengeliminir perangkat Pendidikan sebelumnya.

Namun, telah Nampak sekarang ini mendikbud baru kita telah mengerahkan kebijakan-kebijakan terkait beberapa hal yang menyentuh proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Seperti halnya asumsi beberapa kalangan, nyatanya betul yang dikatakan mereka bahwa era kita ini akan cenderung bertatap muka pada monitor laptop. Semuanya serba online.

Terbukti, penulis mengalami sendiri setelah menengadah hasil pertemuan dengan pembimbing KKN, beliau menyampaikan isu-isu bahwa laporan KKN yang tidak lagi harus di print, tetapi hanya dipantau lewat website resmi pembimbing.

Hal ini diberlakukan tidak untuk tahun ini, tetapi target tahun depan. Suatu apresiasi spontan terkait kebijakan tersebut, sebab jika betul-betul akan diterapkan berarti pembimbing KKN tidak punya alasan lagi untuk tidak becus memantau anak bimbingannya selama pelaksanaan KKN, karena laporan akan lebih mudah dipantau dari jauhpun dikirim.

Dan memungkinkan tidak akan ada lagi kejadian copi paste laporan. Namun, tentu dibalik itu penulis mempermasalahkan bagaimana dengan mahasiswa yang berada di daerah yang listrik pun tidak ada, apalagi jaringan internet ?

Sangat sulit jika dipikir-pikir, Mengingat wilayah Indonesia begitu luasnya untuk dijangkau, misalnya saja daerah sekitar pulau-pulau dan pegunungan. Kecuali, dari pihak pengambil kebijakan bisa mengatasi ketiadaan sinyal di tempat-tempat tertentu tersebut.

Para pegiat Pendidikan sebaiknya sudah punya kesiapan menghadapi masa kini. Masa yang menuntut kita agar melek teknologi. Penulis ingin menukil juga persoalan nyata yang dihadapi sekolah-sekolah, utamanya di desa-desa.

Belum lama ini telah diberlakukan ujian berbasis computer? Padahal setiap sekolah ternyata belum begitu cukup alat (computer) untuk mengikuti ujian tersebut.

Karena keterbatasan alat ini yang hendak dipertanyakan. Pemerintah seharusnya melengkapi terlebih dulu alat menuju capaian target untuk memajukan mutu pendidikan.

Penulis ambil contoh di SMPN 6 Alla Enrekang hanya terdapat tujuh komputer dari puluhan siswa untuk menghadapi Ujian nanti.

Padahal tempat mereka ujian meminta sekolah menyediakan kurang lebih sepuluh computer untuk melengkapi alat di sana.

Jangankan menghadapi ujian. Di keseharian prakteknya saja di laboratorium komputer, mereka harus bergiliran belajar bagaimana menggunakan komputer yang tepat.

Apakah sudah efektif menerapkan ujian berbasis computer? Maka, lengkapi fasilitas mereka dululah, sebelum menerapkan kebijakan sungguhan.

Daki-daki batin para pegiat Pendidikan semakin menyuarak. Antara khawatir dan malu ketika masih berada pada fase gagap teknologi.

Mereka harus dipaksa melek teknlogi lewat pelatihan-pelatihan yang rutin. Itupun jika disediakan untuk semua guru-guru. Tidak tebang pilih, baik guru PNS, Honorer dan jika mendesak para calon guru semestinya diberikan wadah juga untuk meningkatkan umumnya.

Baru-baru ini telah di informasikan terkait rapor akan berubah menjadi elektronik rapor (e-rapor). Seperti halnya portal mahasiswa. Jadi orangtua siswa dapat lebih mudah memantau peningkatan nilai anaknya lewat e-rapor tersebut.

Dalam pertemuannya dengan perwakilan guru senusantara, Nadiem Makariem yang disebut Menteri progresif itu optimistis menyatakan “ ia terbuka untuk segala masukan demi perbaikan Pendidikan.”

Beliau terkesima terhadap semangat guru , ia pun berpesan bagaimana mungkin siswa bisa pintar jika guru-guru berhenti belajar. Patut kiranya guru terus mengasah kompetensinya. Terlebih lagi kemampuannya dibidang teknologi di masa sekarang.

Apalagi Mendikbud telah menyampaikan akan menggandeng Google sebagai bentuk kerjasama dengan menjadikan Indonesia sebagai prioritas dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang Teknologi.
Untuk segenap guru dan calon guru senusantara, di pelosok gunung, pesisir maupun di kota metropolitan bekali diri dengan kompetensi pribadi, sosial dan keterampilan di bidang teknologi yang baik. Sebab bagaimana siswa, akan selaras dengan pertanyaan siapa gurunya.

Laporan : Agen Subair
http://spionase-news.com/2019/11/28/korelasi-mendikbud-guru-harus-melek-teknologi/

0 comments:

Post a comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India