Tuesday, 31 December 2019

Jangan Jadikan Indonesia seperti Kawasan Timur Tengah


KH Marzuki Mustamar di Masjid Cheng Hoo Surabaya. (Foto: NU Online/panitia)

Surabaya, NU Online Umat Islam hendaknya memperbanyak kajian agama. Namun yang juga penting adalah selektif dalam memilih guru yang nantinya dapat membimbing ke pemahaman Islam yang sesuai tuntunan. Pada saat yang sama juga diingatkan untuk tetap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, jauh dari perpecahan. Penegasan disampaikan KH Marzuki Mustamar saat meluncurkan acara ngaji bulanan di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Sabtu (28/12). Kegiatan juga sebagai rangkaian haul ke-10 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Dalam pandangan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut, kunci utama agar Indonesia tetap aman dan utuh serta agar Indonesia tidak seperti Suriah dan kawasan Timur Tengah lainnya yakni tetap manut atau patuh kepada kiai. “Kalau rakyat Indonesia tetap taat dan manut kiai, maka Indonesia aman, damai dan tidak mudah diadu domba,” kata Kiai Marzuki Mustamar.

Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Kota Malang ini menyayangkan kegandrungan umat, khususnya anak muda yang lebih percaya kepada media sosial. Banyak dari mereka yang justru menjadikan kajian agama di media sosial sebagai menu utama harian. Padahal tidak sedikit informasi yang disampaikan justru jauh dari harapan.

“Jangan sampai kita semua lebih percaya media sosial atau medsos daripada percaya kiai. Bahaya, bisa hancur peradaban bangsa ini. Sebab di medsos banyak hoaks,” tegasnya. Pada kesempatan tersebut, kiai yang juga dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini sangat berharap agar banyak belajar dari tragedi yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya Suriah.

“Saat ini puluhan ribu orang Suriah hampir tidak bisa membaca al-Qur’an karena tidak ada tempat. Guru dan waktu untuk belajar dan membaca al-Qur’an tidak ada lagi karena di sana semua sibuk konflik dan berperang,” ungkapnya.

Di akhir paparannya, Kiai Marzuki meminta secara khusus kepada hadirin untuk bersama menjaga negara dari ancaman perang saudara. Sebab, menurutnya, kalau perang saudara seperti yang terjadi selama ini, maka rakyat akan bodoh dan miskin. Ngaji bersama Kiai Marzuki di Masjid Cheng Hoo tersebut rencananya digelar setiab bulan yakni di Sabtu terakhir. Kitab yang dikaji adalah Mukhtarul Ahadits.

Pewarta: Ibnu Nawawi Editor: Aryudi AR
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/115025/jangan-jadikan-indonesia-seperti-kawasan-timur-tengah-
Konten adalah milik dan hak cipta www.nu.or.id























Harlah, Natal Dan Maulid.


Kata Natal yang menurut arti bahasa sama dengan kata harlah (hari kelahiran), hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka.
Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum-seperti dalam bidang kedokteran ada istilah perawatan pre-natal yang berarti "perawatan sebelum kelahiran".

Dengan demikian, maksud istilah 'Natal' adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh 'perawan suci' Maryam.
Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Sedangkan Maulid, adalah saat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi atau dalam dunia barat dikenal sebagai Saladin, dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi.

Dia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad, enam abad setelah Rasulullah wafat.
Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa'ud melarangnya di Saudi Arabia.
Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad itu.

Dengan demikian, dua kata (Natal dan Maulid) mempunyai makna khusus, dan tidak bisa disamakan.
Dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kata Maulid dan Natal adalah "kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan" (yuqlaqu al'am wa yuradu bihi al-khash).
Penyebabnya adalah asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang beragam.
Artinya jelas, Natal dipakai orang-orang Kristiani, sedangkan maulid dipakai orang-orang Islam.

Menurut Gus Dur, Natal dalam kitab suci Alquran disebut sebagai "yauma wulida" (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip:
 "kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)" (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud.

Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: "Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku" (al-salamu 'alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa.

Bahwa kemudian Nabi Isa 'dijadikan' Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah masalah lain lagi. Artinya, secara tidak langsung Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur'an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga.
Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan.

"Jika penulis (Gus Dur) merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau (Isa) dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah SWT."

Dengan demikian, "menjadi kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal.
Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama.
Penulis (Gus Dur) menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannya bersama-sama."

Dalam litelatur fiqih, jika seorang muslim duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian.
Namun hal ini masih merupakan ganjalan bagi kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan dianggap turut berkebaktian yang sama.

"Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain.
Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih."

Sumber: Artikel Gus Dur ini pernah di muat di Koran Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003.


lebih lengkap:

Penggunaan ketiga kata di atas dalam satu nafas, tentu banyak membuat orang marah. Seolah-olah penulis menyamakan ketiga peristiwa itu, karena bagi kebanyakan kaum Muslimin, satu dari yang lain sangat berbeda artinya. Harlah (hari lahir) digunakan untuk menunjuk kepada saat kelahiran seseorang atau sebuah institusi.<> Dengan demikian, ia memiliki "arti biasa" yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sementara bagi kaum Muslimin, kata Maulid selalu diartikan saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dan kata Natal bagi kebanyakan orang, termasuk kaum Muslimin dan terlebih-lebih kaum Nasrani, memiliki arti khusus yaitu hari kelahiran Isa Al-Masih. Karena itulah, penyamaannya dalam satu nafas yang ditimbulkan oleh judul di atas, dianggap "bertentangan" dengan ajaran agama. Karena dalam pandangan mereka, istilah itu memang harus dibedakan satu dari yang lain. Penyampaiannya pun dapat memberikan kesan lain, dari yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya.

Kata Natal, yang menurut arti bahasanya adalah sama dengan kata harlah, hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka. Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum -seperti dalam bidang kedokteran, seperti perawatan pre-natal yang berarti "perawatan sebelum kelahiran"-. Yang dimaksud dalam peristilahan ‘Natal' adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh "perawan suci" Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Karena kaum Nasrani mempercayai adanya dosa asal. Anak manusia yang bernama Yesus Kristus itu sebenarnya adalah anak Tuhan, yang menjelma dalam bentuk manusia, guna memungkinkan "penebusan dosa" tersebut. Karena itu penjelmaannya sebagai anak manusia itu disebut juga oknum, yang merupakan salah satu dari oknum roh suci dan oknum Bapa yang ada di surga.

Sedangkan Maulid adalah saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi itu. Dengan maksud untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (crusade), maka ia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad tersebut, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa'ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk "menyambut kelahiran" itu.

Karenanya dua kata (Natal dan Maulid) yang mempunyai makna khusus tersebut, tidak dapat dipersamakan satu sama lain, apapun juga alasannya. Karena arti yang terkandung dalam tiap istilah itu masing-masing berbeda dari yang lain, siapapun tidak dapat membantah hal ini. Sebagai perkembangan "sejarah ilmu", dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqih) kedua kata Maulid dan Natal adalah "kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan" (yuqlaqu al'am wa yuradu bihi al-khash). Hal ini disebabkan oleh perbedaan asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam itu. Bahkan tidak dapat dipungkiri, bahwa kata yang satu hanya khusus dipakai untuk orang-orang Kristiani, sedangkan yang satu lagi dipakai untuk orang-orang Islam.

******

Natal, dalam kitab suci Al-Qur'an disebut sebagai "yauma wulida" (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: "kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)" (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: "Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku" (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi Isa "dijadikan" Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci Al-Qur'an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah Swt.

Sedangkan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin the Saracen), penguasa dari wangsa Ayyub yang berkebangsaan Kurdi non-Arab itu, enam abad setelah Nabi Muhammad Saw wafat, harus berperang melawan orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard berhati singa (Richard the Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan Perancis untuk mempertanggungjawabkan mahkota mereka kepada Paus, melancarkan perang Salib ke tanah suci. Untuk menyemangatkan tentara Islam yang melakukan peperangan itu, Saladin memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi tiap-tiap tahun, di bulan kelahiran beliau. Bahwa kemudian peringatan itu berubah fungsinya, yang tidak lagi mengobarkan semangat peperangan kaum Muslimin, melainkan untuk mengobarkan semangat orang-orang Islam dalam perjuangan (tidak bersenjata) yang mereka lakukan, itu adalah perjalanan sejarah yang sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul kesejarahannya.

Jadi jelas bagi kita, kedua peristiwa itu jelas mempunyai asal-usul, dasar tekstual agama dan jenis peristiwa yang sama sekali berbeda. Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama. Dalam literatur fiqih, jika kita duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan "ganjalan" bagi kaum Muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan "dianggap" turut berkebaktian yang sama. Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih.

Inilah "prosedur" yang ditempuh oleh para pejabat kita tanpa mengerti sebab musababnya. Karena jika tidak datang melakukan hal itu, dianggap "mengabaikan" aturan negara, sebuah masalah yang sama sekali berbeda dari asal-usulnya. Sementara dalam kenyataan, agama tidak mempersoalkan seorang pejabat datang atau tidak dalam sebuah perayaan keagamaan. Karena jabatan kenegaraan bukanlah jabatan agama, sehingga tidak ada keharusan apapun untuk melakukannya. Namun seorang pejabat, pada umumnya dianggap mewakili agama yang dipeluknya. Karenanya ia harus mendatangi upacara-upacara keagamaan yang bersifat ‘ritualistik', sehingga kalau tidak melakukan hal itu ia akan dianggap ‘mengecilkan' arti agama tersebut. Ini adalah sebuah proses sejarah yang wajar saja. Setiap negara berbeda dalam hal ini, seperti Presiden AS yang tidak dituntut untuk mendatangi peringatan Maulid Nabi Saw. Di Mesir umpamanya, Mufti kaum Muslimin -yang bukan pejabat pemerintahan- mengirimkan ucapan selamat Natal secara tertulis, kepada Paus Shanuda (Pausnya kaum Kristen Coptic di Mesir). Sedangkan kebalikannya terjadi di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, bukan pada hari Maulid Nabi Saw. Padahal di Indonesia pejabat beragama Kristiani, kalau sampai tidak mengikuti peringatan Maulid Nabi Saw akan dinilai tidak senang dengan Islam, dan ini tentu berakibat pada karier pemerintahannya. Apakah ini merupakan sesuatu yang baik atau justru yang buruk, penulis tidak tahu. Kelanjutan sejarah kita sebagai bangsa, akan menunjukkan kepada generasi-generasi mendatang apakah arti moral maupun arti politis dari "kebiasaan" seperti itu.

Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa arti pepatah lain padang lain ilalang, memang nyata adanya. Semula sesuatu yang mempunyai arti keagamaan (seperti perayaan Natal), lama-kelamaan "dibudayakan" oleh masyarakat tempat ia berkembang. Sebaliknya, semula adalah sesuatu yang "dibudayakan" lalu menjadi berbeda fungsinya oleh perkembangan keadaan, seperti Maulid Nabi Saw di Indonesia. Memang demikianlah perbedaan sejarah di sebuah negara atau di kalangan suatu bangsa. Sedangkan di negeri lain orang tidak pernah mempersoalkannya baik dari segi budaya maupun segi keyakinan agama. Karenanya, kita harus berhati-hati mengikuti perkembangan seperti itu. Ini adalah sebuah keindahan sejarah manusia, bukan? Jerussalem, 20 Desember 2003 Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Pembaharuan Tags: #Harlah #Maulid #dan #Natal

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/64529/harlah-maulid-dan-natal
Konten adalah milik dan hak cipta www.nu.or.id

Monday, 30 December 2019

Teladan Toleransi Pimpinan Daerah Kab Tangerang & Kecamatan Panongan



Teladan Toleransi Pimpinan Daerah Kab Tangerang & Kecamatan Panongan Dalam Perayaan Malam Natal di Gereja Santa Odilia Citra Raya 24 Desember 2019.

Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar; Kapolresta Tangerang, AKBP Ade Ary Syam Indradi; Kasdim Mayor Arh Wayan Kariana;  Wakapolresta Tangerang, AKBP Dedi Tambrani;  Bapak Rudi Lesmana, Camat Panongan; Danramil  14 Panongan, Kapten Inf Budi Nuryanto; Kapolsek Panongan, AKP Nana Supriatna; Ketua Ansor Kabupaten Tangerang, Haji Kodir Muhidin, hadir untuk mengucapkan selamat Natal kepada umat Katolik Santa Odilia Citra Raya dan mewujudkan kehadiran negara dalam perayaan iman warganya. Haji Badri Hasun, Kepala Kemenag, pada Minggu Natal untuk mengucapkan Selamat Natal kepada para romo Gereja Katolik St. Odilia Citra Raya Tangerang.

Sebagai penutup 6500 umat Katolik menyanyikan Happy Birthday untuk Kasdim 0510 Tigaraksa, Mayor Arh Wayan Kariana yang ke - 54.


Salam Kebajikan

Report by: Romo Felix Supranto, SS.CC/Media Polsek Panongan, Koramil 14 Panongan, dan Kecamatan Panongan

Sunday, 22 December 2019

Penerbit Karya Ilmiah Perguruan Tinggi Indonesia






KAMI MENERBITKAN KARYA ILMIAH ANDA!

Dapatkan penawaran penerbitan masterpiece skripsi karya ilmiah Anda menjadi sebuah buku layak terbit dengan Biaya Swadaya Mandiri Penulis.

Apa yang Anda DAPATKAN:
1. Anda akan mendapatkan 2 buah buku bukti terbit.
2. Buku Anda terdaftar resmi ISBN (International Standard Book Number) di London, Inggris, melalui Perpustakaan Nasional RI di Jakarta.
3. Buku Anda terverfikasi terbit ID-BUKU (Nomer Identitas Buku Indonesia).
4.Buku Anda akan dipromosikan melalui jaringan website buku penerbit kami.
5. Pratinjau (Preview) buku Anda akan tayang di Perpustakaan Digital GOOGLEBOOKS, sehingga dapat dibaca kapan pun dan dimana pun di seluruh dunia.
6. Buku Anda terindeks di GOODREADS, website komunitas pembaca buku terbesar di dunia.
7. Cover dan Konten buku anda didesain dan dilayout secara standar tanpa dikenakan biaya.
8. Hak cipta Buku 100% ada pada Anda Sebagai Penulis.

Apa yang harus Anda SIAPKAN:
1. Naskah karya ilmiah anda (skripsi/tesis/disertasi) berbentuk file word (boleh juga fotocopy naskah salinannya)
2. Biaya swadaya penerbitan Rp1.500k (sekali bayar didepan).
3. Proses pengerjaan 7-15 hari kerja.

SEGERA LENGKAPI DATA ANDA DAN KIRIM KEPADA KAMI
Info lengkap kontak kami:
WA:  0857 7549 9005
HP: 0812 9701 3535
Alamat: Jln.Nusa Indah B 5/5 PI-MA Ciputat
Tangsel - ( Selatan Jakarta )
Fortofolio kami:

PENYERAHAN KUNCI RUMAH LAYAK HUNI KEPADA KELUARGA USTAD IRSAD, KAMPUNG SALAWEYAN, DESA ONYAM, KECAMATAN GUNUNG KALER, KABUPATEN TANGERANG



Dalam Rangka Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial (HKSN) 2019 Dan Hari Amal Bakti Kemenag 2020

Pada hari Kamis, 19 Desember 2019,  diadakan acara penyerahan kunci layak huni kepada keluarga Ustad Irsad di Kampung Salaweyan, Desa Onyam Kecamatan Gunung Kaler, Kabupten Tangerang.  Penyerahan kunci ini dilakukan oleh Kompol Teguh yang mewakili Kapolresta Tangerang, Kapten Inf M. Irwan Idrus  yang mewakili  Dandim 0510 Tigaraksa,   Haji Asep Maman Kurnia yang mewakili Kemenag Kabupaten Tangerang, Kyai Haji Maski (Ketua FKUB Kabupaten Tangerang),  Bapak Bustanil (Kepala Desa Onyam yang mewakili Camat Gunung Kaler, dan Romo Felix Supranto, SS.CC (Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat). 



Penyerahan kunci rumah layak huni ini dilakukan dalam rangka  kegiatan peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2019 dan Hari Amal Bakti Kemenag 2020.  Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional  jatuh pada tanggal 20 Desember 2019.   HKSN diperingati dalam relasinya dengan hari Bela Negara yang  jatuh pada tanggal 19 Desember di mana pada tanggal itu di tahun 1948 seluruh lapisan masyarakat Indonesia bersatu dalam menghadapi agresi militer Belanda ke - 2. Dalam konteks  sekarang ini, HKSN dilakukan untuk menggerakkan kembali nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang ada dalam masyarakat. Dengan persatuanlah, masalah-masalah bangsa dapat diatasi. Persatuan seluruh lapisan masyarakat ini juga menjadi tujuan dari Hari Amal Bakti Kemenag 2020 yang bertemakan “Umat Rukun, Indonesia Maju”.Hari Amal Bakti Kemenag ini diperingati pada tanggal 03 Januari 2020. Kerukunan dan kekompakan masyarakat yang terdiri-dari berbagai agama dan etnis adalah kunci untuk membangun Indonesia yang maju.  Rumah layak huni ini merupakan buah dari hasil kerjasama antara Kodim 0510 Tigaraksa, Kapolresta Tangerang, Kemenag Kabupaten Tangerang, FORKOPIMCAM Gunung Kaler, tokoh agama dan masyarakat, serta elemen-elemen masyarakat lainnya.

Tujuan tersebut disampaikan dalam sambutan-sambutan. Sambutan-sambutan disampaikan oleh Romo Felix Supranto, SS.CC, Kyai Haji Maski,  Bapak Bustanil, Kapten Inf M. Ridwan Idrus,  Kompol Teguh, dan Haji Asep Maman Kurnia. Romo Felix Supranto, SS.CC menyampaikan bahwa rumah huni bagi keluarga Irsad ini merupakan hasil dari kepekaan nurani semua elemen masyarakat  yang melihat penderitaan sesama dan juga kekompakan dalam meringankan penderitaan masyarakat. Kyai Haji Maski  menyampaikan bahwa  rumah layak huni ini merupakan realisasi dari perintah agama untuk saling membantu.  Kapten Inf M. Ridwan Idrus memiliki pengharapan bahwa rumah layak huni ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk melakukan kegiatan sosial di mana saja. Kompol Teguh menyampaikan bahwa pembangunan rumah layak huni ini  bisa terwujud karena keamanan dapat kita pelihara bersama. Keamanan ini adalah salah satu kunci untuk membawa Indonesia lebih maju. Bapak Haji Asep Maman Kurnia menyampaikan bahwa rumah layak huni ini merupakan realisasi visi Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskadar, yaitu Mewujudkan Masyarakat Kabupaten Tangerang yang Religius, Cerdas, Sehat Dan Sejahtera”. Selain itu, Beliau juga menyampaikan lima hal yang berkaitan dengan Hari Amal Bakti Kemenag Tahun 2020, yaitu mengamalkan seluruh aspek keagamaan, memelihara kerukunan  umat beragama, menjaga keadaan rasa aman, menumbuhkan  harmonisasi antar  umat beragama, menjunjung tinggi nilai-Niali toleransi.







Setelah sambutan, acara dikanjutkan dengan penyerahan kunci  rumah layak huni kepada keluarga Irsad. Dalam kesempatan ini, Kemenag Kabupaten Tangerang melalui Haji Asep Maman juga menyerahkan perlengkapan tidur untuk keluarga tersebut.



Acara penyerahan kunci ditutup dengan doa oleh Kyai Haji Thoyib.



Bapak Irsad mengungkapkan perasaannya menerima rumah layak huni ini : “Terimakasih ..... Terimakasih ..... Saya senang sekali”. 

Hadir juga dalam acara ini adalah Haji Anwar, Kepala KUA (Kantor Urusan Agama) Kecamatan Gunung Kaler serta  Kyai Haji Thoyib, anggota MUI Kabupaten Tangerang, dan Persit (Persatuan Istri Tentara) Kotramil 07 Kresek. 




Dengan peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional dan Hari Amal Bakti Kemenag, semoga kita semakin peka, rukun, kompak, untuk memartabatkan manusia demi kemajuan Indonesia.

Salam
Romo Felix Supranto,  SS.CC/Tim Media Kodim 0510 Tigaraksa

Wednesday, 18 December 2019

Kapolresta Tangerang Mengadakan Pengecekan Persiapan dan Kesiapan Pengamanan Perayaan Natal 2019 & Tahun Baru 2020



Selasa, 17 Desember 2019,  Kapolresta Tangerang, AKBP Ade Ary Syam Indradi,   SH, SIK, MH, mengadakan pengecekan persiapan dan kesiapan pengamanan kegiatan parayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 dalam wilayah hukum Polresta Tangerang. Dalam pengecekan persiapan dan kesiapan pengamanan Perayaan Natal dan Tahun Baru ini, Kapolresta Tangerang didampingi oleh Mayor Arh Wayan Kariana  (Kasdim 0510 Tigaraksa), Pejabat Utama Polresta Tangerang, Beberapa Perwakilan dari Pemda, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, AKP Nana Supriatna (KapolsekPanongan) dan Kapten Inf Budi Nuryanto (Danramil 14 Panongan). 

Sasaran pengecekan ini adalah Gereja Katolik Santo Gregorius Agung Kutabumi-Pasar  Kemis, Gereja Kristen Indonesia Citra Raya, Gereja Santa Odilia, dan Rest Area.  Perjalanan ke beberapa tujuan tersebut dimulai dari Polresta Tangerang. 










Tujuan pengecekan ini adalah untuk  memastikan  akan kelengkapan dan kesiapan anggota dalam pelaksanaan pengamanan secara maksimal. Dengan demikian, Polresta Tangerang dapat memberikan rasa aman dan nyaman terhadap masyarakat yang merayakan Natal dan Tahun Baru. Pelaksanaan  pengamanan ini akan berlangsung selama sepuluh hari, yaitu dari tanggal 23 Desember 2019 sampai dengan tanggal 01 Januari 2020.

Dalam sambang gereja-gereja ini, Kapolresta  Tangerang, AKBP Ade Ary Syam Indradi, SH, SIK, MH, memberikan pesan kepada umat Kristiani bahwa Polresta  Tangerang bersama Kodim dan Pemda (Tiga Pilar) siap memberikan keamanan agar   umat Kristiani dapat menjalankan ibadat Natal dengan baik. Kapolresta juga menekankan agar di hari Natal, kita harus semakin berlomba-lomba dalam kebajikan sehingga Masyarakat dapat merasakan manfaat kehadiran kita.\


Penulis
Romo Felix Supranto, SS.CC/Media Polsek Panongan & Koramil 14 Panongan

Sunday, 15 December 2019

ONE SPIRIT, ONE TEAM, ONE GOAL MENUJU KABUPATEN TANGERANG GEMILANG



(Jalan Sehat Kebangsaan)

Sebelum jam 06.00,  Hari Minggu 15 Desember 2019, lebih dari Lima ribu orang sudah memenuhi jalan-jalan di  Citra Raya Tangerang. Warga itu bersatu dan bergembira  mengikuti senam sambil menantikan pembukaan jalan sehat  kebangsaan.  Jalan sehat kebangsaan ini  diadakan dalam rangka HUT  Kabupaten Tangerang ke - 76 dan Hari Amal Bakti Kemenag Ke - 74.


Beberapa pejabat yang hadir  dalam acara ini adalah Bapak Moch Maesyal Rasyid  (Sekda Kabupaten Tangerang), Mayor Arh Wayan (Kasdim 0510 Tigaraksa),  Bapak Badri Hasun (Kepala Kemenag),  Kyai Haji Maski (Ketua FKUB),  Rudi Lesmana (Camat Panongan) , AKP Nana Supriatna (Kapolsek Panongan),   Kapten Inf Budi Nuryanto ( Danramil 14 Panongan), serta  para camat dan Sekcam. Selain itu, banyak tokoh agama dan tokoh masyarakat ikut serta memeriahkan  jalan sehat kebangsaan ini. Sungguh jalan sehat ini menyatukan warga masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang.

Acara jalan sehat kebangsaan ini dimulai dengan penampilan tarian dari anak-anak Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin. Setelah itu acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” ini menggetarkan jiwa lima ribu orang  untuk senantiasa menjaga kesatuan anak-anak  bangsa. 



Persatuan  memang merupakan jalan untuk membawa Kabupaten Tangerang lebih gemilang. Pentingnya persatuan ini disampaikan dalam sambutan-sambutan  yang disampaikan oleh Ketua Panitia, Kepala Kemenag, dan Sekda. 


Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan deklarasi kebangsaan. Kemudian acara diteruskan dengan penyerahan kue untuk ulang tahun Bapak Bupati Tangerang, Zaki  Iskandar. Penyerahan kue ulang tahun ini merupakan tanda cinta  dan hormat  kepada Bapak Zaki Iskandar yang telah memimpin warga Kabupaten Tangerang dengan luar biasa.


Jalan sehat kebangsaan ini dibuka oleh Bapak Sekda dengan penerbangan balon-balon udara ke langit. Balon-balon itu membumbung tinggi membawa harapan masyarakat  Kabupaten Tangerang  kepada yang Ilahi. Sebelum menerbangkan balon-balon itu, Sekda mengingatkan warga Kabupaten Tangerang untuk tetap menjaga “One Spirit, One Team, One Goal”.



Jalan sehat ini sungguh menyatukan semangat untuk  mencapai tujuan bersama, yaitu kesejahteraan masyarakat Kabupaten Tangerang. Kesejahteraan bersama ini harus diperjuangkan dengan melangkah maju ke depan dengan satu tekad.



Selamat ulang Tahun Kabupaten Tangerang. Semakin Gemilang dan semakin Jaya.

Penulis
Romo Felix Supranto, SS.CC/Media Forkopimcam Panongan

Friday, 13 December 2019

Perayaan Natal 2019 & Tahun Baru 2020 Aman



Saksikan Video Kapolresta Tangerang dan Forkopimda Kabupten Tangerang  menjamin perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 aman. Hal ini disampaikan dalam acara silaturahmi dengan para pimpinan gereja-gereja se - Kabulaten Tangerang yang diadakan di aula Gereja Katolik Santa Odilia Citra Raya. Hal ini baru pertama kali terjadi apalagi diikuti oleh semua unsur masyarakat, termasuk beberapa kyai.

Sambutan- sambutan di dalam acara ini sangat menyejukkan dan sangat inspiratif.
Romo Felix Supranto, SS.CC/Mitra Media Polsek Panongan

PEMBUKAAN TURNAMEN SEPAK BOLA KAPOLSEK PANONGAN CUP



Eratkan Tali silaturahmi dan Junjung tinggi sportifitas

Pada hari Kamis, 12 Desember 2019, diadakan pembukaan Turnamen Sepak Bola Kapolsek Panongan Cup di lapangan Ciapus Kecamatan Panongan. Turnamen ini akan berlangsung sampai dengan tanggal 12 Januari 2020.  Hadir dalam acara pembukaan turnamen sepak bola ini antara lain AKP Nana Supriatna (Kapolsek Panongan), Dicky Burhanudin (Sekcam yang mewakili Camat Panongan), Peltu Misbac yang mewakili Danramil 14 Panongan, KONI Kecamatan Panongan, Beberapa kepala desa dan lurah, Romo Fekix Supranto, SS.CC, tokoh agama dan masayarat, serta beberapa ormas.




Dalam sambutannya,  AKP Nana Supriatna menyampaikan  bahwa Turnamen Sepak Bola Kapolsek Panongan Cup ini diadakan dalam rangka memeriahkan keberhasilan pengamanan Pilkades Serentak Kecamatan Panongan. Tujuan dari turnamen sepakbola ini adalah memperat tali silaturahmi di antara warga masyarakat dan menjunjung tinggi sportifitas. 

Pembukaan Turnamen Sepakbola Kapolsek Panongan Cup ini ditandai dengan tendangan bola pertama oleh Kapolsek Panongan, AKP Nana Supriatna. Setelah itu dialnjutkan dengan pertandingan pertama antara kesebelasan Brata FC dari Polresta Tangerang dengan BBS  Legok. Hasil pertandingan ini adalah 2 – 1 untuk kemenangan kesebalasan dari Polresta Tangerang.





Dalam pertandingan pertama ini nampak beberapa anak menyaksikannya dengan penuh antusias. Hal ini sesuai dengan harapan Kapolsek Panongan bahwa turnamen ini dapat menghasilkan banyak generasi muda yang berprestasi.




Penulis

Romo Felix Supranto, SS.CC/Mitra Media Polsek Panongan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India