Wednesday, 16 May 2018

Apa Saja Bidang Wirausaha Potensial di Tangsel ?

Tangerang Selatan (Tangsel) kini berubah menjadi kota satelit yang lebih mandiri dengan segala macam potensi kewilayahannya. Apa saja bidang wirausaha yang potensial di Kota Tangsel?
Tangsel berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bogor dan Kota Depok. Tangsel punya luas 147,19 km2 dan terbagi jadi tujuh kecamatan: Setu, Serpong, Serpong Utara, Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur, dan Pondok Aren.
Luas Tangsel sedikit lebih besar dibandingkan Jakarta Selatan (141,3 km2), tetapi kalah besar kalau disandingkan dengan Kota Tangerang (164,5 km2)
Jumlah penduduk Tangsel terus melonjak. Pada 2013, jumlahnya 1.443.403 jiwa, kemudian di 2014 jadi 1.492.999 jiwa. Angka ini terus naik, pada 2015 jadi 1.543.209 jiwa. Dari jumlah total tersebut, sebagian besar (71.90%) penduduk Tangsel merupakan Usia Produktif (15 – 64 tahun).
Seiring meningkatnya jumlah penduduk, praktis terjadi pertambahan jumlah rumahtangga. Data dari BPS Tangsel menyebutkan, pada 2013, jumlah rumahtangga mencapai 365.838. Kemudian meningkat lagi pada 2014 (380.591), dan 2015 (391.141).
Bukan cuma jumlah rumahtangga yang terus bertambah, bahkan tingkat kepadatan pun setali tiga uang. Pada 2015 misalnya, setiap km2 wilayah di Tangsel rata‐rata ditempati 10.484 jiwa. Ini mencerminkan Tangsel sebagai wilayah yang padat penduduknya.


Lantas bagaimana geliat perekonomian di kota yang dipimpin Walikota Airin Rachmi Diany ini? BPS Tangsel menyebut, struktur perekonomian Tangsel pada 2015 menurut lapangan usahanya, didominasi sektor Real Estate yang menyumbang 17,44 persen terhadap penciptaan nilai tambah di Tangsel dengan nilai nominal Rp 9,77 triliun. Disusul kemudian sektor Perdagangan Besar dan Eceran. Lalu, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dengan share 17,16 persen atau sekitar Rp 9,62 triliun. Selanjutnya diikuti sektor Konstruksi yang punya share 14,66 persen (Rp 8,22 triliun).
Jumlah Industri Kecil, Menengah dan Besar di Kota Tangsel. (Sumber: BPS Kota Tangsel, 2014)
Jumlah Industri Kecil, Menengah dan Besar di Kota Tangsel. (Sumber: BPS Kota Tangsel, 2014)
Kuliner Tom Yam Kelapa di Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Kuliner Tom Yam Kelapa di Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Tangsel memperkenalkan slogan kotanya dengan CMORE yang berarti Cerdas Modern Religius. Sejak awal berdirinya, Tangsel sudah diniatkan untuk menjadi Kota Perdagangan dan Jasa. Sebuah niat yang mudah dipahami karena Tangsel tidak banyak memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah-ruah. Sebagai penyangga (buffer)dari kawasan-kawasan yang ada di sekelilingnya, untuk sementara ini Tangsel memang pas bila diproyeksikan sebagai Kota Perdagangan dan Jasa. Setidaknya, sejak dua sampai tiga tahun terakhir, proyeksi ini sudah semakin mengemuka. Terlebih lagi, ketika Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2011 – 2016 menegaskan visi Tangsel, yaitu: “Terwujudnya Tangerang Selatan Kota Cerdas, Berkualitas, dan Berdaya Saing Berbasis Teknologi dan Inovasi”.
Lihat saja misalnya, data Profil Investasi Tangsel 2014. Dalam suatu wilayah, pertumbuhan ekonomi dalat ditilik dari aktivitas perekonomian yang memberi tambahan pendapatan masyarakat dalam periode tertentu. Hakikatnya, aktivitas perekonomian masyarakat merupakan proses penggunaan faktor produksi untuk menghasilkan output berupa aliran balas jasa terhadap faktor produksi yang dimiliki masyarakat, sehingga diharapkan pendapatan masyarakat turut meningkat.
Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) pada 2014 merefleksikan terjadinya peningkatan produksi barang dan jasa oleh para pelaku ekonomi di Tangsel. Dengan melihat inflasi sektoral (dilihat dari perkembangan indeks implisit PDRB) sebesar 3,58 persen, artinya telah terjadi perbaikan pendapatan masyarakat Tangsel pada umumnya. Bila perbaikan tersebut disertai pemerataan pendapatan, akan meningkatkan daya beli masyarakat sebagai faktor utama penggerak perekonomian.
Sebagai ‘anak bungsu’ di Provinsi Banten, LPE Tangsel cukup bagus. Pada 2014, pertumbuhan ekonomi menanjak jadi 8,84 persen. Peningkatan ini disumbang oleh sektor unggulan seperti sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh melesat hingga 72,75 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi terendah yakni 0,88 persen terjadi pada pengadaan listrik dan gas.
Kinerja sektor primer (agricultural sector) --- terdiri dari sektor pertanian, pertambangan dan penggalian ---, selama 2014 hanya mencapai 3,06 persen. Malah, untuk sektor penggalian tidak ada pergerakan sama sekali bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Masuk akal, karena apa juga yang bisa digali untuk ditemukan di Tangsel ini? Bisa-bisa malah menciptakan kerusakan lingkungan di kota yang minimalis ini.
Bagaimana dengan sektor sekunder? Terdiri dari sektor industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, serta bangunan, kinerja manufacturing sector ini tumbuh 28.08 persen pada 2014.
Struktur Perekonomian Kota Tangsel Menurut Kategori pada 2013 - 2015. (Sumber: BPS Kota Tangsel)
Struktur Perekonomian Kota Tangsel Menurut Kategori pada 2013 - 2015. (Sumber: BPS Kota Tangsel)
Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany (paling kanan) mengenakan Batik Etnik Tangsel. (Foto: dikti.go.id)
Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany (paling kanan) mengenakan Batik Etnik Tangsel. (Foto: dikti.go.id)
Nah, yang menarik terjadi pada sektor tersier(services sectors) --- terdiri dari sektor perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta jasa-jasa. Kinerja sektor ini mencapai pertumbuhan tertinggi dengan 17.40 persen. Kenaikannya diperkirakan karena pendapatan masyarakat Tangsel juga mengalami peningkatan. Sektor perdagangan, hotel dan restoran masih menjadi unggulan investasi di Tangsel dengan andil (basis point) dari LPE yaitu 28 persen pada 2011. Sektor pengangkutan dan komunikasi tetap pada angka 14,87 persen atau sama dengan periode tahun sebelumnya.
Belanja, Kuliner dan MICE
Pada 2013, hampir duapertiga nilai PDRB Tangsel disumbang oleh sektor tersier, dengan nilai yang cukup fantastis: 72,75 persen. Sedangkan sektor sekunder hanya memberi kontribusi: 26,37 persen. Paling buncit adalah kontribusi sektor primer yang cuma 0,02 persen. Tampak kecenderungan bahwa, kontribusi sektor yang tidak berbasis jasa, peranannya makin terus menurun. Sebaliknya yang berbasis jasa, peranannya makin menampakkan peningkatan signifikan.
Kalimat yang sengaja ditebalkan ini menjadi kata kunci, bagi para calon pengusaha untuk memegang kendali dan fokus menggarap lahan-lahan usaha potensial di Tangsel --- dalam hal ini sektor tersier ---, seperti ditampakkan pada laju perkembangan angka-angkanya dari tahun ke tahun.
Pernyataan Kepala Kantor Penanaman Modal Daerah (KPMD) Tangsel, Oting Ruhiyat, boleh jadi bisa kian menguatkan. Seperti dikutip Lensa Investasi Tangsel edisi Desember 2016, ia mengatakan, Tangsel kini telah menjadi salah satu tujuan orang-orang yang ingin berbelanja atau mencicipi kuliner dari tempat-tempat yang ada. Dengan berbagai pusat perbelanjaan, pusat kuliner, Tangsel seringkali dijadikan tujuan warga yang tinggal di kota-kota sekitar. Dilengkapi dengan akses jalan yang baik dan juga infrastruktur yang terus ditingkatkan, tidak salah bila pada masa yang akan datang, Tangsel akan semakin ramai.
Eh, info berikut ini juga masih ada hubungannya loh ya untuk menambah semangat menanamkan modal di Tangsel. Ternyata, pada September 2016, Tangsel dinobatkan sebagai pemenang dua kategori sekaligus, yakni Kota Terbaik (dengan indeks 80.42) juga Kota Potensial Investasi (dengan indeks 85.04) sewaktu perhelatan Attractiveness Award 2016 yang diselenggarakan Tempo Media Groupbersama Frontier. “Besar harapan agar penghargaan yang diterima ini dapat menarik lebih banyak investor,” ujar Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany kala menerima penghargaan tersebut.
Tangsel Mart di Jalan Raya Viktor, Serpong, yang menyediakan segala aneka produk Kota Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Tangsel Mart di Jalan Raya Viktor, Serpong, yang menyediakan segala aneka produk Kota Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Aneka produk aromatherapy karya kreatif wirausahawan Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Aneka produk aromatherapy karya kreatif wirausahawan Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Tak mau berpuas diri dengan predikat Kota Terbaik dan Kota Potensial Investasi ini, KPMD Tangsel jauh-jauh hari sudah ambil ancang-ancang untuk merancang ‘cetak biru’ Rancangan Umum Penanaman Modal (RUPM) untuk 5 hingga 15 tahun mendatang. Ada tiga fase didalamnya, pertama: fase pengembangan penanaman modal yang strategis dan cepat menghasilkan. Kedua, fase percepatan infrastruktur dan energi. Dan ketiga, fase pembangunan episentrum untuk industri jasa yang berkaitan dengan Meeting Incentives Conferences & Exhibitions (MICE). “Contohnya, seperti membangun Jakarta Convention Center dengan skala yang lebih kecil,” ujar Oting Ruhiyat.
Tuh kan, muncul lagi kebutuhan Tangsel untuk menyiapkan lokasi MICE dengan skala kecil tapi tetap harus lengkap dengan segala piranti layanan hardwaresoftware juga SDM-nya. Ini kata kunci bagi para calon pebisnis yang siap berinvestasi dan berwirausaha di Tangsel. Jangan lewatkan kesempatan, untuk menjadi pebisnis yang tak hanya tangguh tapi yang paling utama adalah mampu pegang kendali sektor bisnis di Tangsel --- kota yang ingin menjadikan Bunga Anggrek van Douglas sebagai lambangnya.
Tidak berlebihan loh, apabila pada masa-masa mendatang, Tangsel dinyatakan sebagai “Kota MICE”. Alasannya, selain karena memang sudah tercantum sebagai perwujudan dalam fase ketiga RUPM KPMD Tangsel, juga karena pertambahan penduduk yang kian meledak, dan daya kemilau perkembangan Tangsel bagi wilayah-wilayah sekitar.
Salah satu produk yang dipasarkan oleh wirausahawan Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Salah satu produk yang dipasarkan oleh wirausahawan Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Industri Kacang Sangrai di Kecamatan Setu yang menjadi salah satu ikon usaha Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Industri Kacang Sangrai di Kecamatan Setu yang menjadi salah satu ikon usaha Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Selain itu, mari kita coba tilik dari sisi angka. Meski kurang punya obyek wisata, tapi Sektor Pariwisata di Tangsel --- dengan sektor MICE didalamnya --- mulai kelihatan berkembang secara menggembirakan. Hal ini terlihat dari nilai PAD tahun 2014, dimana Sektor Pariwisata menempati urutan kedua dan terjadi kenaikan 9,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perinciannya: pajak hotelmencapai Rp 14.176.000.000, pajak restoran Rp 129.184.000.000, dan pajak hiburan Rp 28.949.000.000.
Pembangunan industri MICE diyakini punya efek berganda yang sangat besar, karena melibatkan banyak pelaku bisnis, mulai dari hotelrestorantransportasievent organizerbiro perjalanan wisata, hingga UMKM. Lagi-lagi, ini kata kunci apabila para calon pebisnis ingin menanamkan modalnya di Tangsel.
Menyinggung tentang UMKM, geliat perkembangannya di Tangsel menunjukkan perkembangan yang terus ciamik. Apalagi, wadah untuk bergabung bagi para pelaku UMKM juga sudah ada, salah satunya adalah Koperasi UMKM Mandiri Tangsel. Banyak manfaat positif yang bisa diperoleh jika bergabung bersama dengan 148 anggota koperasi baru berusia tiga tahun ini. Sebut saja misalnya, pelatihan manajemen maupun keuangan, hingga selalu diajak berpartisipasi mengisi standmaupun booth pameran manakala ada acara resmi dari Pemkot Tangsel.
Nelty Fariza Kusmilianti (kiri), wirausahawan yang turut melahirkan dan mengembangkan Batik Etnik Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Nelty Fariza Kusmilianti (kiri), wirausahawan yang turut melahirkan dan mengembangkan Batik Etnik Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Handajani, wirausahawan Tangsel yang memproduksi Sambal Ikan Asap Cakalang dan Abon Ikan Asap Cakalang. (Foto: Gapey Sandy)
Handajani, wirausahawan Tangsel yang memproduksi Sambal Ikan Asap Cakalang dan Abon Ikan Asap Cakalang. (Foto: Gapey Sandy)
Boleh juga disebut di sini, sejumlah sosok wirausahawan yang sudah lebih dulu bergabung dengan Koperasi UMKM Mandiri Tangsel. Ada Lina Santika Rahmania yang memproduksi sambal spesial “Hj. Lina” dengan aneka varian, yaitu Original, Ekstra Pedas, Sambal Bebek, dan Sambal Ikan Tuna. Sedangkan wirausahawan lainnya Siti Rahmawatiyang terkenal dengan produk Abon Ikan Tongkol dan Abon Ikan Lelenya. Beda dengan Mariana yang punya produk jualan Madu Pahit Asli. Sementara Verra Rahmi, ia berjualan panganan Rengginang dengan label kemasan ‘Vee’. Adapun Handajani, memproduksi Sambal Ikan Asap Cakalang dan Abon Ikan Asap Cakalang.
Di luar koperasi, banyak wirausahawan yang semakin menunjukkan gelagat kesuksesannya dalam berbisnis di Tangsel. Sebut saja misalnya, Bahaudin yang terus meniti sukses dengan bisnis kulinernya. Baha, begitu ia akrab disapa, adalah pemik Resto of Tom Yam yang berlokasi di bilangan Ciputat, dengan menu andalan Tom Yam Kelapa dan Kwetiau Kungpao. Beda dengan Nelty Fariza Kusmilianti yang memilih untuk memproduksi Batik Etnik Tangsel.
Untuk memulai usaha dan mengembangkannya, salah satu faktor utama adalah permodalan. Terkait aspek yang satu ini, salah satu upaya untuk memperoleh produk pembiayaan mikro adalah dengan memanfaatkan layanan Bank Danamon melalui produk DP500 atau Dana Pinjaman Terproteksi 500. Melalui produk perbankan ini, tersedia pinjaman modal usaha dengan plafond kredit mulai Rp 500 juta hingga Rp 1,5 miliar.
Sedangkan bagi yang membutuhkan pengembangan tempat usaha, tersedia produk UKM berupa Kredit Tempat Usaha Ruko atau KTU Ruko.
Nah, ingin seperti para wirausahawan Tangsel itu ‘kan? Tunggu apalagi, sekarang saat yang tepat untuk menjadi wirausahawan sukses seperti mereka. Spirit berwirausaha ini sudah barang tentu senafas dengan yang sedang coba ditularkan oleh Danamon lewat slogannya ‘Saatnya Pegang Kendali’. Bukankah layanan Danamon sudah semakin mudah dijangkau warga Tangsel, lengkap dengan produk Mikro dan UKM yang pasti dapat menjadi solusi, sekaligus pilihan terbaik untuk mendapatkan pembiayaan usaha.
Oh ya, untuk mengetahui pelbagai update paling kiwari mengenai Info Gaya Hidup dan Kiat Cerdas Mengelola Keuangan Personal, jangan lewatkan untuk follow akun Twitter @myDanamonFacebook @myDanamon dan Instagram @myDanamon.

Source : https://www.kompasiana.com/gapey-sandy/apa-saja-bidang-wirausaha-potensial-di-tangsel_592b74dc557b61a85cf77f2d

0 comments:

Post a comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India