Friday, 24 January 2020

SILATURHAMI KAPOLRESTA TANGERANG KEPADA UMAT KHONGHUCU Di RUMAH IBADAT LI THANG CIAPUS– KECAMATAN - PANONGAN



Menjelang Hari Raya Imlek, Kapolresta Tangerang, Kombes Ade Ary Syam Indradi, pada hari Kamis, 23 Januari 2020, mengadakan silaturahmi kepada umat Khonghucu di rumah ibadat  Li Thang di Kampung Ciapus - Desa Panongan - Kecamatan Panongan. Dalam kunjungan ini Kapolresta Tangerang didampingi oleh Kompol Teguh, AKP Nana Supriatna (Kapolsek Panongan), Rudi Lesmana (Camat Panongan),  Kapten Inf Budi Nuryanto (Danramil Panongan), Kepala Desa Panongan, Romo Felix Supranto, SS.CC (Gereja Katholik Santa Odilia Citra Raya), serta tokoh agama  dan masyarakat setempat. Kapolresta Tangerang menyampaikan tujuan kunjungan ke rumah ibadah ini, yaitu sebagai ungkapan perlindungan dan pelayanan Polresta Tangerang bagi semua lapisan masyarakat, terutama umat Khonghucu yang akan merayakan Imlek beberapa hari ke depan.




Kunjungan Kapolresta Tangerang membawa sukacita yang luar biasa bagi para pengurus  Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) setempat karena baru pertama kali dikunjungi oleh pejabat pemerintahan setingkat Kabupaten sebagaimana disampaikan oleh Bapak Rudi. Bapak Rudi  juga mengungkapkan bahwa kunjungan Bapak Kapolresta Tangerang beserta Muspika Panongan ini memberikan semangat bagi umat Khonghucu untuk semakin berpartisipasi dalam usaha menjalin kerukunan. Oen Thong mengatakan  bahwa ia bangga sekali dengan kunjungan Kapolresta Tangerang beserta Muspika Panongan ini. 




Semoga kunjungan Kapolresta Tangerang berserta Muspika Panongan ini akan semakin mempererat tali persaudaraan antar umat beragama di Kabupaten Tangerang pada umumnya dan di Kecamatan Panongan pada khususnya.


Salam  Kebajikan'
Report by
Rm Felix Supranto, SSCC/Media Polsek Panongan & Koramil 14 Panongan
https://felixsuprantooasejiwa.blogspot.com/2020/01/silaturhami-kapolresta-tangerang-kepada.html?m=1

Pertemuan lintas agama yang baru pertama kali terjadi di Kab Tangerang diadakan di Vihara Budha


Pertemuan lintas agama yang baru pertama kali terjadi di Kab Tangerang yang diadakan di Vihara Budha

Pertemuan Lintas Agama Se - Kecamatan Panongan digelar di Vihara Tian Hui Citra Raya pada tanggal 22 Januari 2020.  Pertemuan ini menjadi ajang silaturahmi Kapolresta Tangerang, Kombes Ade Ary Syam Idradi, Bersama para pimpinan Daerah Kabupaten Tangerang lainnya dan para pimpinan Kecamatan Panongan serta Para Pimpinan Keagamaan. Acara ini diprakasai oleh Polsek Panongan dan Muspika Panongan lainnya serta tokoh agama dan masyarakat.

Salam kebajikan
Report by 
Rm Felix Supranto, SSCC/Media Polsek Panongan & Koramil Panongan

Wednesday, 22 January 2020

Deklarasi Abu Dhabi, Vatikan dan Dunia Arab Sepakat Berhenti Bawa-bawa Tuhan dan Agama


Berhenti menggunakan nama Tuhan untuk menghalalkan kekerasan, terorisme dan pembunuhan, tetapi juga berhenti menginstrumentalisasi agama untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

SEBUAH kunjungan dan pertemuan bersejarah antara Pimpinan Gereja Katolik Roma dan dunia Arab telah terjadi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Paus Fransiskus dan Paus-paus sebelumnya pernah melakukan kunjungan ke beberapa negara dan tempat dengan kekentalan Islam Arab tinggi, seperti Mesir, Marokko, Tunisia, Palestina dan Libanon, tetapi belum pernah terjadi dengan jazirah Arab yang dikenal sebagai tempat lahir agama Islam.
[https://stand-under.blogspot.com/2020/01/deklarasi-abu-dhabi-vatikan-dan-dunia.html]

Pada 3 Februari 2019 malam hari, Paus Fransiskus yang sudah cukup lama mengiyakan undangan Presiden Uni Emirat Arab (UAE) Syeikh Khalifa bin Zayed al-Nahyan dan komunitas Katolik di negeri ini, terbang menuju Abu Dhabi, Ibu Kota UAE.

Paus tiba di bandara kepresidenan UAE Pk 22.00 waktu Abu Dhabi dan diterima secara sangat hangat dan protokoler.

Dari situ, kegiatan demi kegiatan berlangsung dengan sangat rapi, indah, dan mengesankan hingga beliau tiba kembali di Vatikan, Selasa, 5 Februari, pukul 17.00 waktu Roma dalam keadaan selamat, dengan hati puas dan bahagia.

• Tanda Tangani Deklarasi Abu Dhabi Bersama Paus Fransiskus, Imam Besar Al Azhar: Anda Bukan Minoritas

• Ceramah di Forum Deklarasi Abu Dhabi, Quraish Shihab Bersalaman dengan Paus Fransiskus

Tak disangkal, lawatan ini diklaim bersejarah dan oleh berbagai alasan, mendapat antusiasme sangat besar di seantero jagat.

Di berbagai TV dan surat kabar serta jalur-jalur media sosial, berseliweran berita-berita kehadiran Paus dan berbagai kegiatan sejak tiba di bandara, dijemput dengan musik khas Arab, salute para serdadu, dan penjemputan di istana kepresidenan dengan atraksi jet-jet tempur di langit UAE dengan semburan asap berwarna kuning dan putih melambangkan bendera Vatikan.

Selain itu juga pertemuan dialog lintas agama di Masjid “Founder’s Memorial”, kunjungan pribadi ke Katedral hingga misa raya di Zayed Sports City yang dihadiri lebih dari 130.000 umat Katolik dan 4.000 umat Islam, hingga acara pamitan untuk kembali ke Vatikan.

Oleh karena kehistorisan lawatan Sri Paus ini, bukan saja untuk beliau dan Gereja Katolik di belakang beliau, tetapi juga untuk pihak UAE, Semenanjung Arab, dunia Arab, dan umat Islam sedunia, setiap momen dan peristiwa pertemuan yang sudah diagendakan di atas program menjadi momen-momen sangat istimewa dan berarti.

Setiap tatapan mata, setiap rangkulan, setiap gandengan tangan, setiap kata, setiap isyarat, setiap simbol menjadi tanda istimewa syarat makna, syarat pesan.

Perdamaian dunia
Paus Fransiskus (kiri) disambut oleh Putra Mahkota Abu Dhabi Syeikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan (kanan) setibanya di Bandara Internasional Abu Dhabi di Uni Emirat Arah pada Minggu (3/2/2019).
Paus Fransiskus (kiri) disambut oleh Putra Mahkota Abu Dhabi Syeikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan (kanan) setibanya di Bandara Internasional Abu Dhabi di Uni Emirat Arah pada Minggu (3/2/2019). (AFP/Andrew Medichini via Kompas.com)

Ada banyak klimaks selama kunjungan ini berlangsung. Tergantung dari konteks mana. Tak dipungkiri bahwa misi perdamaian dunia adalah salah satu tujuan utama Paus Fransiskus dalam lawatannya ke Semenanjung Arab kali ini.

Perhatiannya yang amat besar tentang perdamaian dunia, tentang dunia yang beradab, dunia yang lebih berperikemanusiaan, dunia yang bebas dari rasa sakit dan tetes-tetes air mata sudah beliau perjuangkan dari awal pontifikatnya tahun 2013 lalu.

Di berbagai kesempatan, beliau menyerukan keadilan sosial, pemerataan, pembangunan “jembatan“ dan bukan “tembok“, kerukunan, perdamaian, dan berbagai opsi kemanusiaan lainnya.

Paus Fransiskus tidak hanya berwacana. Dia juga melakukan aksi-aksi nyata untuk itu: mulai dari mencium kaki para pengungsi dan nara pidana dari berbagai latar belakang agama saat upacara Misa Kamis Putih setiap tahun, hingga membawa pengungsi Muslim masuk Vatikan dan makan bersama di satu meja makan di kediamannya yang sangat privat.

Berapa miliar umat Katolik ingin makan semeja makan dengan Paus, dan mereka tidak bisa. Jangankan makan bersama, bersalaman saja sulit bukan main.

Ajaran kasih Yesus Kristus diejawantahkan Paus Fransiskus secara sangat to the point melalui cara hidupnya yang sederhana, lugas, dan lurus.

Inilah jalan hidup yang tepat untuk seorang pemimpin yang datang untuk melayani dan membawa kebahagiaan untuk semua orang, dan bukan sebaliknya untuk dilayani dan untuk bermegah-megah di atas kekayaan yang sering merupakan hasil curian dan rampasan dari keringat rakyat jelata.

Dengan roh dan semangat kesahajaan, seorang pemimpin lebih bisa bersolider dengan manusia-manusia yang ia pimpin.

PUTRA Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan ketika bertemu Paus Fransiskus di Vatikan pada 2016.
PUTRA Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan ketika bertemu Paus Fransiskus di Vatikan pada 2016. (thenational.ae)

Dengan semangat itu pula, dia lebih mudah mengosongkan diri seraya memberi ruang terlebih dahulu kepada kepentingan umum daripada kepentingan ego.

Itulah sebabnya, mengapa Paus Fransiskus memutuskan untuk memilih perikop Injil Kotbah di Bukit dari Injil Matius, khususnya Sabda Bahagia (Mat. 5,1-12) untuk perayaan misa akbar di stadion Zayed Sports City yang diklaim sebagai misa raya pertama kali dalam sejarah di semenanjung Arab dengan khalayak sebanyak itu.
[https://stand-under.blogspot.com/2020/01/deklarasi-abu-dhabi-vatikan-dan-dunia.html]
Dalam kesempatan emas itu, beliau tidak hanya ingin menyirami jiwa-jiwa umat di wilayah itu yang oleh karena kondisi tertentu, tidak bisa menghidupi imannya dengan cara semestinya, tetapi juga secara global ingin mengajak semua orang dari berbagai latar belakang iman dan agama untuk menghidupi semangat kesederhanaan dan kesahajaan untuk bisa memberikan lebih banyak ruang kepada kuasa Tuhan.

Tekanan khusus beliau berikan kepada urgensi membawa dan menyebarkan perdamaian (Mat.5:7). Orang yang membawa dan menyebarkan perdamaian, dia bukan saja akan menjadi bahagia, tetapi dia saat ini pula sudah menjadi bahagia.

Orang yang berjiwa damai dan bahagia dengan dirinya, akan bisa membuat orang lain damai dan bahagia. Inilah urgensinya.

This is the point! Perdamaian dan kebahagiaan bersama kita butuhkan sekarang dan di sini. Bukan besok, bukan lusa, bukan tahun berikutnya.

Persaudaraan manusia universal
Selaras dengan misi perdamaian ini, pada hari kedua, Paus Fransiskus yang sudah cukup lama bersahabat kental dengan Imam Besar al-Azhar, Ahmad al-Tayyib, dalam pertemuan lintas agama di Masjid Founder’s Memorial di Abu Dhabi dan di hadapan petinggi UAE serta wakil-wakil dunia Islam dan Katolik, menandatangani sebuah deklarasi dan dokumen bersama tentang Persaudaraan Manusia Universal demi kerukunan dan perdamaian manusia sejagad.

Arti penting penandatanganan dokumen bersejarah ini, bukan saja karena fakta kita bersama bahwa relasi antara umat Islam dan umat Kristiani sejak abad ke-6 Masehi sudah dibayang-bayangi oleh kesalahpahaman dan konflik yang sayangnya masih berlangsung di banyak tempat hingga saat ini, tetapi juga karena adanya kesadaran, malah keyakinan, bahwa kalau umat Islam dan umat Kristiani bisa saling menerima satu sama lain sebagai saudara dan saudari dan dengan itu bisa hidup bersama secara rukun dan damai, maka perdamaian dunia pasti akan dialami.

Mengapa tidak?

Menurut statistik terakhir, umat Kristiani dan Islam seluruhnya, termasuk berbagai macam denominasi yang berafiliasi di bawah nama Kristen dan Islam, bersama-sama membentuk lebih dari setengah keseluruhan populasi dunia (7 miliar).

Umat Kristiani seluruhnya berjumlah 2,2 miliar (32.5 persen dari keseluruhan populasi dunia). Umat Islam seluruhnya berjumlah 1,5 miliar (21,5 persen dari keseluruhan populasi dunia).

Artinya, kedua-duanya berjumlah total sebanyak 3,7 miliar orang dari 7 miliar penduduk dunia saat ini.

Berhenti Gunakan Nama Tuhan
Paus Fransiskus disambut Putra Mahkota Abu Dhabi Pangeran Syeikh Mohammed bin Zayed dan imam Al Alzhar Kairo, Syeikh Ahmed al-Tayeb saat tiba di Bandara Internasional Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, Minggu (3/2/2019). Paus Fransiskus mencetak sejarah sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma pertama yang menginjakkan kakinya di daratan Arab.
Paus Fransiskus disambut Putra Mahkota Abu Dhabi Pangeran Syeikh Mohammed bin Zayed dan imam Al Alzhar Kairo, Syeikh Ahmed al-Tayeb saat tiba di Bandara Internasional Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, Minggu (3/2/2019). Paus Fransiskus mencetak sejarah sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma pertama yang menginjakkan kakinya di daratan Arab. (Handout via Reuters)

Dokumen Persaudaraan Manusia Universal dari berbagai latar belakang, termasuk agama, merupakan sebuah panggilan mendesak saat ini.

Menurut Paus Fransiskus dan Imam al-Tayyib yang berbicara atas nama al-Azhar, sebuah institusi prestisius dan ternama di dunia Islam, jalan menuju persaudaraan manusia universal, seperti yang dirumuskan di dalam dokumen itu, bukan saja dilakukan melalui langkah-langkah penting seperti berhenti menggunakan nama Tuhan untuk menghalalkan kekerasan, terorisme dan pembunuhan, tetapi juga berhenti menginstrumentalisasi agama untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Berhenti pula menekan orang lain dengan menggunakan kuasa yang bekedok agama. Lebih lugas, lebih jelas dan lebih terang dari ungkapan-ungkapan seperti ini tidak ada lagi.

Anak-anak kecil hingga kakek dan nenek, orang bersekolah dan orang buta huruf bisa memahaminya. Tidak butuh interpretasi, tidak butuh penjelasan.

Berhenti artinya berhenti.

Kalau dua tokoh besar dunia sudah sepakat seperti itu dan dimeterai pula hitam di atas putih, dan mereka berbicara atas nama begitu banyak orang, disaksikan petinggi-petinggi kedua agama, dan ini dimaksudkan semata-mata untuk kebaikan bersama, tinggal saja kita ikuti.

Mari kita mulai bersama. Mari kita sejukan dunia ini bersama-sama. (Markus Solo Kewuta SVD, Imam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD). Ahli Islamologi. Kini bertugas sebagai Sekretaris Pribadi Kardinal Jean-Lous Turan, Kepala Kantor Hubungan Antaragama Vatikan di Roma)
[https://stand-under.blogspot.com/2020/01/deklarasi-abu-dhabi-vatikan-dan-dunia.html]
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Vatikan dan Dunia Arab Sepakat Berhenti Membawa-bawa Tuhan dan Agama"
https://wartakota.tribunnews.com/2019/02/07/deklarasi-abu-dhabi-vatikan-dan-dunia-arab-sepakat-berhenti-bawa-bawa-tuhan-dan-agama?page=all.
Editor: Fred Mahatma TIS

Penanaman Padi Perdana Dalam Rangka Upaya Khusus Swasembada Pangan di Desa Mekar Jaya


Penanaman Padi Perdana Dalam Rangka Upaya Khusus Swasembada Pangan di Desa Mekar Jaya - Kecamatan Panongan - Kab Tangerang
Hari Selasa, 21 Januari 2020,  acara penanaman padi perdana dalam rangka swasembada pangan telah dilaksanakan di Desa Mekar  Jaya - Kecamatan Panongan - Kab Tangerang, oleh Koramil 14 Panongan, Desa Mekar Jaya, dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL Korwil Curug).  

Salam kebajikan 
Report by
Romo Felix Supranto, SSCC/Media Koramil 14 Panongan
[https://www.infotangsel.co.id/2020/01/penanaman-padi-perdana-dalam-rangka.html]

Tuesday, 21 January 2020

Intoleransi Mencengkeram Dunia Pendidikan


Belakangan ini ruang publik di Tanah Air, baik di Media Sosial maupun Media Mainstream sedang diberi muatan berita yang relatif merisaukan masyarakat pada umumnya.

Betapa tidak, Dunia Pendidikan yang merupakan Taman Bunga Kehidupan Generasi Anak Bangsa, saat ini sedang dicengkeram oleh Intoleransi yang berkelindan dengan Radikalisme.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa Radikalisme dan Intoleransi di dalam dunia pendidikan di Tanah Air, sudah menjadi semacam wabah "penyakit menular" dan telah pula menjadi rahasia umum, dan diketahui oleh hampir semua kalangan, baik di dalam negeri maupun di kalangan mancanegara.

Sebagai misal, minggu lalu, publik di Tanah Air dibuat terperangah dengan publikasi di media sosial terkait dengan intoleransi dalam dunia pendidikan.

Hal yang lebih mengenaskan adalah bahwa, tindakan intoleransi itu justeru diajarkan dalam praktek pendidikan di kalangan anak-anak usia Sekolah Dasar.

Praktek dimaksud adalah Tepuk Tangan Kafir dari SDN (Sekolah Dasar Negeri) Timuran di Kota Jogyakarta (Liputan 6.com, 15 Januari 2020), di mana
irama Tepuk Pramuka itu adalah sebagai berikut: Islam, Islam, Yes! Kafir, Kafir, No!

Memperhatikan modus operandi Intoleransi dalam dunia pendidikan seperti ini, di mana anak kecil diajari kebencian sejak usia dini, maka pada saatnya mereka akan tumbuh menjadi generasi yang muatan moral hidupnya akan dipenuhi dengan DNA Radikalisme, Anti Pancasila, Segregasi dan Terorisme.

Lalu, mengapa hal seperti ini terus menerus terjadi seolah tanpa henti di negara kita yang indah ini?

Berdasarkan pengalaman empiris serta menurut perkiraan yang mendekati kebenaran, bahkan boleh jadi dan besar kemungkinan, hal ini disebabkan karena pembiaran oleh pihak yang berwenang dalam menata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dikatakan demikian, karena bagaimana mungkin, anak kecil sebagai embrio masa depan bangsa ini, diajarkan kebencian dengan mencemari alam pikiran dan hati nurani mereka dengan masa depan yang bernuansa mendung dan kelabu.

Karena itu, fenomena gerakan ajakan membenci perbedaan dan Intoleransi semakin menjadi, karena adanya pembiaran tanpa tindakan yang signifikan, baik secara preventif, perseveratif dan kuratif.

Kecuali itu, belum lama juga, jagad publik di negeri ini, disuguhkan dengan hasil Penelitian dari Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI), yang dipublikasikan oleh harian jogya.com (15-1-2020), yang menyatakan bahwa, sejumlah sekolah di Wilayah Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, diduga sudah terpapar paham radikalisme.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, salah satu indikasinya adalah adanya perubahan penamaan OSIS (Organsiasi Siswa Intra Sekolah) menjadi Rohis.

Lebih lanjut, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Sleman Unsul Jalis mengatakan, hampir 60 % sekolah SMA baik Negeri maupun Swasta di wilayah Sleman terpapar paham Radikalisme.

Ditegaskannya pula bahwa, tidak hanya itu, bahkan guru-guru SMA kurang lebih sekitar 30 % yang juga terpapar paham Radikalisme.

Dijelaskan Jalis, masuknya paham-paham radikal ke sekolah-sekolah itu bukan terjadi tiba-tiba tetapi sengaja dibawa. "Ada gerakan agar paham ini masuk ke sekolah-sekolah.

Meskipun fakta ini belum dapat digeneralisir sebagai basis argumentasi untuk "menjustifikasi" bahwa radikalisme telah masuk dan merasuk ke dalam dunia pendidikan di Indonesia, tetapi tampaknya hal ini merupakan fenomena gunung es, di mana radikalisme dan intoleransi memang sedang mencengkeram dunia pendidikan di Tanah Air.

Intoleransi, Masif dan Terencana
Gerakan intoleransi di dalam dunia pendidikan, rupanya berjalan secara masif dan terencana.

Pasalnya, gerakan intoleransi dan radikalisme dalam dunia pendidikan di Tanah Air dalam satu dasawarsa belakangan ini, dilaksanakan mulai dari tingkatan pendidikan yang paling bawah dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai ke tingkat Pendidikan Tinggi di Universitas.

Hal ini dipertegas oleh Heri Setyawan (2019) bahwa, beberapa tahun terakhir ini, dilaporkan hasil penelitian mengenai corak keberagamaan pada institusi pendidikan di Indonesia.

Hasilnya pun sebenarnya tidaklah mengejutkan, dimana wacana keagamaan di kalangan mahasiswa dikuasai oleh kelompok-kelompok tertentu dan dikembangkan wacana keagamaan yang bersifat eksklusif.

Lebih lanjut dikemukakannya bahwa, pada akhir Mei 2019 yang lalu, Setara Institut menyampaikan Laporan Penelitian mengenai wacana dan gerakan keagamaan di kalangan mahasiswa.

Penelitian dilakukan di 10 Universitas Negeri di Indonesia pada
Bulan Februari-April 2019. Sepuluh Universitas Negeri yang diteliti termasuk dua Universitas Islam Negeri.

Beberapa temuan dimaksud antara lain, adanya eksklusivitas dalam struktur kepemimpinan organisasi kemahasiswaan. Dalam penelitian ini ditemukan berkembangnya wacana anti pemimpin organisasi dari agama lain, bahkan dari kelompok lain, walaupun seagama.

Bahkan terjadi politisasi pemilihan kepengurusan organisasi intra kampus, sehingga tidak mewadahi perwakilan dari agama dan kelompok lain.

Selain itu, ditemukan lemahnya kontestasi dan wacana alternatif dari organisasi besar Islam Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah. Ditambah lagi dengan terjadinya penurunan suasana diskusi ilmiah di kalangan mahasiswa yang menurut Setara Institut mempercepat tumbuhnya wacana intoleransi di kalangan mahasiswa.

Demikian juga, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) menegaskan bahwa, pada tahun 2018 juga ditemukan hal yang sama yaitu, terdapat 7 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), terpapar radikalisme. Hal ini mirip juga dengan apa yang disebutkan oleh (BIN) Badan Intelijen Negara bahwa, terdapat 39 % mahasiswa di 15 Propinsi terpapar radikalisme; dan angka-angka itu telah menunjukkan angka yang besar dan mengejutkan semua kalangan.

Sosialisasikan Toleransi
Memperhatikan beberapa hasil penelitian seperti tersebut di atas, maka kekuatiran mengenai berkembangnya Intoleransi dan fundamentalisme, bahkan benih-benih radikalisme yang mencengkeram dunia pendidikan bukanlah merupakan hal yang berlebihan.

Lembaga Pendidikan yang diharapkan mampu mendayagunakan seluruh potensi kemanusiaan peserta didik guna mengembangkan peradaban rasanya seperti sedang dihalau oleh Intoleransi yang menebar benih radikalisme.

Sebenarnya secara nalar, cukup logis untuk dipahami bahwa, mempelajari agama dan mengembangkan keagamaan di dalam dunia pendidikan merupakan suatu keniscayaan yang realistis, bahkan perlu didukung.

Terutama keberagamaan yang mengembangkan potensi kemanusiaan peserta didik yang pada akhirnya akan berguna untuk menumbuh-kembangkan peradaban.

Namun demikian, Heri Setyawan (2019) mengatakan bahwa, eksklusivisme sampai pada level penolakan pada mereka yang berbeda agama, bahkan menolak mereka yang berbeda kelompok, merupakan hal yang perlu dikuatirkan. Apalagi bila benih-benih kebencian dan permusuhan justeru berkembang dan mencengkeram dunia pendidikan di Tanah Air.

Terkait dengan tindakan sosialiasi dan promosi toleransi, maka Laraswati Ariadne Anwar (2020), mengatakan bahwa, pendidikan perdamaian dan toleransi menjadi kebutuhan mutlak di Indonesia, mengingat kayanya keragaman yang ada di masyarakat Tanah Air.

Karena itu, seperti dilaporkannya dalam (Kompas, 15-1- 2020), tak mau berpangku tangan membiarkan berbagai permasalahan intoleransi yang terjadi secara sporadis, maka Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia, bergerak membuat program pendidikan damai
di sekolah untuk mensosialisasikan dan mempromosikan Toleransi.

Dilaporkan bahwa, kegiatan itu salah satunya diselenggarakan di SMKN 3 Tangerang Selatan, Banten.

Kemudian, sekolah ini menggunakan medium Animasi untuk mengajar Perdamaian melalui Jurusan Animasi.

Sekolah ini memproduksi serial Sari dan Mulia untuk ditayangkan di Yutube. Dalam ceritera serial ini, Kakak beradik Sari dan Mulia membahas berbagai fenomena sehari-hari, seperti berbuat baik kepada sesama, menjaga kebersihan, termasuk juga mengenal dan menghargai berbagai perbedaan di dalam masyarakat.

Selain itu, secara internal di sekolah juga dilakukan kegiatan Dialog antaragama, dengan konsep bincang-bincang santai dan kegiatan ini disambut secara sangat positif oleh siswa di sekolah.

Pendidikan perdamaian itu digalakkan untuk mengatasi intoleransi yang mencengkeram dunia pendidikan dewasa ini.

Tugas Mendikbud
Memperhatikan dinamika dan perkembangan situasi dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini, dimana Gerakan Intoleransi dan Radikalisme sedang mencengkeram dengan kuat dunia pendidikan, maka diperlukan kebijakan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang lebih "Membuka Ruang Perjumpaan" bagi semua elemen masyarakat dan peserta didik.

Berkaitan dengan hal itu, maka dengan meminjam Henny Supoko Sitepu (2019), sudah waktunya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengupayakan agar setiap penyelenggaraan pendidikan memasukkan upaya penciptaan ruang perjumpaan sebanyak-banyaknya dalam berbagai pendekatan.

Hal ini disebabkan, saat ini situasi bangsa sedang memperlihatkan betapa banyak narasi negatif beredar mengenai sikap atau setidaknya
gagasan Intoleransi yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan.

Sekolah sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang akan menyiapkan anak untuk menyongsong masa depan yang penuh dengan kedamaian.

Anak didik atau mahasiswa yang nyaman berada dalam keragaman tentu akan lebih mudah berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis (karena memiliki kepercayaan diri dalam keragaman itu) dan menjadi lebih kreatif.

Dengan keberagamaan yang dialami oleh anak didik, maka seorang lebih mudah dilatih untuk menyatakan kekuatan diri, menemukan kekuatan lingkungan, dan berperan untuk kebaikan bersama.

Hal ini menjadi penting karena dunia pendidikan dan sekolah merupakan miniatur Indonesia, karena isinya adalah guru dan siswa serta beragam agama, suku bangsa dan latar belakang sosial.

Oleh karena itu, diperlukan peran serta semua pihak untuk menjaga dan memelihara dunia pendidikan bagi anak cucu kita, generasi bangsa masa depan, agar mereka tidak berada dalam dunia pendidikan yang dicengkeram oleh Intoleransi.
[https://www.infotangsel.co.id/2020/01/intoleransi-mencengkeram-dunia.html]

Goris Lewoleba
Alumni KSA X LEMHANNAS RI, Direktur KISPOL Presidium Pengurus Pusat ISKA, Dewan Pakar VOX POINT INDONESIA.
Source: https://www.kompasiana.com/goris26070

Sekilas kegiatan Sosial Sinergitas Muspika Panongan,tokoh Agama&Masyarakat,20-8-2019sd15-1-2020


Inspirasi untuk Kegiatan Tahun Keadilan Sosial

Saksikan video “Sekilas Pandang Kegiatan Sosial dan Lain-Lain” yang dilakukan oleh Polsek Panongan, Koramil 14 Panongan, Kecamatan Panongan bersama Tokoh Agama & Masyarakat dalam semangat sinergitas, kesatuan hati, dalam usaha mewujudkan kesejahteraan bersama. Ada 15 kegiatan yang telah dilaksanakan dari  tanggal 20 Agustus 2019 sd 15 Januari 2020.
Semoga dapat menjadi inspirasi untuk kegiatan tahun keadilan sosial.
Report by
Romo Felix Supranto, SSCC/Media Polsek Panongan & Koramil 14 Panongan
[https://www.infotangsel.co.id/2020/01/sekilas-kegiatan-sosial-sinergitas.html]


Wednesday, 15 January 2020

Peresmian Pura Parahyangan Agung Bhuwana Raksati Tigaraksa - Kab Tangerang 20 Januari 2020

Keindahan Pura Parahyangan Agung Bhuwana Raksati - Tigaraksa  - Kabupaten Tangerang

Suatu kehormatan bahwa saya sebagai seorang Pastor Katholik diundang  dalam peresmian Pura Parahyangan Agung Bhuwana Raksati - Tigaraksa  - Kabupaten Tangerang pada tanggal 10 Januari 2020. Pura ini sangat indah, batu-batu berasal dari Gunung Di Bali, dan sangat sejuk karena dikelilingi pohon-pohon yang rimbun dan asri. 

Di Pura itu membuat saya merasa berada di Candi Prambanan pada waktu saya masih kecil dan juga serasa di Bali.

Pura  itu memberikan. Kedamaian batin bagi siapa saja yang berkunjung.
Pura itu bisa menjadi salah satu tempat wisata rohani di Kabupaten Tangerang.
By
Salam kebajikan 
Rm Felix Supranto, SS.CC/Media Kodim 0510 Tigaraksa
[https://www.infotangsel.co.id/2020/01/peresmian-pura-parahyangan-agung.html]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India